Banyakberita.com sukabumi – Pemerintah Desa (Pemdes) Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, terus menunjukkan komitmen nyata dalam mengoptimalkan potensi ekonomi lokal dan menjaga stabilitas pangan masyarakat. Melalui tata kelola anggaran yang terintegrasi, Pemdes Cijangkar menyalurkan penyertaan modal kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebesar Rp236.800.000 juta. Dana tersebut bersumber dari alokasi Anggaran Ketahanan Pangan Tahun 2025
Penyertaan modal berskala besar ini digunakan BUMDes Cijangkar untuk menggerakkan tiga unit usaha produktif sekaligus, yaitu peternakan domba, budidaya tanaman pisang, serta pengembangan jasa jaringan internet desa (WiFi). Strategi diversifikasi usaha ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan berbasis hewani dan nabati sekaligus mendorong percepatan digitalisasi di tingkat pedesaan.
Mengoptimalkan Usaha BUMDes Cijangkar
Kaur keuangan Desa Cijangkar, Hendi Fariasdimadi, menjelaskan bahwa jajarannya sengaja mengumpulkan alokasi anggaran ketahanan pangan dari dua periode tersebut agar BUMDes memiliki struktur permodalan yang cukup kuat. Dengan modal yang memadai, BUMDes dapat menjalankan unit usaha secara berkelanjutan dan tidak terhenti di tengah jalan.

“Pemerintah Desa Cijangkar merealisasikan penyertaan modal BUMDes secara bertahap dan terencana. Kami mengalokasikan anggaran ketahanan pangan tahun 2025 senilai Rp236 juta. Dana ini dikembangkan untuk tiga sektor usaha utama, yaitu peternakan domba, penanaman pohon pisang, dan pengembangan usaha internet WiFi desa,” tegas Hendi Fariasdimadi saat memberikan keterangannya pada Rabu (5/8/2026).
Hendi menambahkan bahwa pemilihan tiga sektor usaha tersebut merupakan hasil pemetaan potensi lokal Desa Cijangkar. Sektor peternakan dan pertanian menyasar ketahanan pangan primer, sedangkan sektor jaringan internet menjawab kebutuhan komunikasi dan transaksi digital warga desa.
Integrasi Sektor Pertanian dan Peternakan Berkelanjutan
Di sektor pangan, Pemdes Cijangkar menerapkan konsep pertanian terpadu (integrated farming). Usaha peternakan domba akan dipadukan secara langsung dengan budidaya tanaman pisang di atas lahan produktif milik desa. Kondisi iklim dan ketersediaan pakan hijau yang melimpah di Kecamatan Nyalindung menjadi modal utama keberhasilan usaha ini.
Kombinasi dua unit usaha ini menciptakan siklus produksi yang saling mendukung:
Sektor Peternakan: Menghasilkan pasokan daging domba berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan regional.
Sektor Hortikultura: Menghasilkan panen buah pisang bernilai jual tinggi.
Pemanfaatan Limbah: Kotoran dari peternakan domba diolah menjadi pupuk kandang organik untuk menyuburkan tanaman pisang, sehingga mereduksi biaya operasional BUMDes.
Melalui skema ini, BUMDes Cijangkar tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memberdayakan para peternak dan petani lokal dalam proses pengelolaan harian.
Baca Juga :
https://banyakberita.com/warga-patungan-bangun-jalan-kabupaten-yang-rusak-keseriusan-pemkab-sukabumi-dipertanyakan/
Jawab Kebutuhan Digital Warga Lewat Usaha Internet WiFi Desa
Selain memfokuskan anggaran pada sektor pangan, BUMDes Cijangkar melebarkan sayap usaha ke sektor jasa teknologi informasi dengan mengelola jaringan internet WiFi desa. Unit usaha ini menjadi solusi atas kebutuhan jaringan internet yang stabil dan terjangkau bagi pemukiman warga di Desa Cijangkar.
Hadirnya WiFi desa yang dikelola BUMDes ini memberikan manfaat langsung bagi para pelajar, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta masyarakat umum. Selain membantu efisiensi biaya komunikasi warga, unit usaha jasa internet ini memberikan pendapatan harian (daily cash flow) yang terukur dan konsisten bagi BUMDes Cijangkar.
Dorong Kemandirian Ekonomi dan Pendapatan Asli Desa (PADes)
Pemdes Cijangkar optimistis seluruh unit usaha yang dikelola BUMDes ini mampu memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) Cijangkar pada masa mendatang. Keuntungan yang diraih akan diputar kembali untuk memperbesar kapasitas usaha BUMDes serta membiayai program pemberdayaan masyarakat desa.
Iing Indra/RP


